PURWOREJO – Semangat berinovasi dan kepedulian terhadap lingkungan ditunjukkan oleh siswa SMP Negeri 15 Purworejo melalui kegiatan kokurikuler berbasis Project Based Learning (PjBL) dengan tema pembuatan dan pemanfaatan briket arang dari batok kelapa. Kegiatan ini menjadi salah satu upaya sekolah dalam mengenalkan energi alternatif sekaligus menumbuhkan kreativitas, kemandirian, dan kesadaran peserta didik terhadap pentingnya pengelolaan limbah.
Dalam kegiatan yang dilaksanakan pada Selasa, 20 Oktober 2026, para siswa tidak hanya belajar membuat briket, tetapi juga melakukan pengujian langsung terhadap hasil karya mereka. Briket yang telah dibuat kemudian dikeringkan melalui proses penjemuran selama dua hari hingga siap digunakan untuk memasak berbagai jenis masakan.
Hasilnya menunjukkan bahwa briket yang diproduksi siswa dapat digunakan dengan baik sebagai bahan bakar untuk kegiatan memasak. Bara api yang dihasilkan mampu bertahan cukup lama dan menghasilkan panas yang dapat dimanfaatkan untuk memasak. Dalam uji coba yang dilakukan siswa, briket tersebut juga tampak menghasilkan asap yang lebih sedikit dibandingkan dengan arang kayu yang digunakan sebagai pembanding.
Belajar Melalui Proyek Nyata
Penerapan Project Based Learning memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar melalui pengalaman nyata. Mereka terlibat dalam proses pengolahan bahan, pembuatan briket, pengeringan, hingga pengujian hasil produk.
Melalui kegiatan ini, siswa belajar bahwa proses pembelajaran tidak hanya berlangsung di dalam kelas, tetapi juga dapat dilakukan melalui praktik langsung yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Mereka memperoleh pengalaman dalam memecahkan masalah, bekerja sama, membagi tugas, mengamati hasil percobaan, serta mengevaluasi kualitas produk yang dihasilkan.
Keberhasilan briket yang dibuat siswa hingga dapat digunakan untuk memasak menjadi pengalaman belajar yang bermakna. Siswa dapat melihat secara langsung bahwa bahan yang sebelumnya dianggap sebagai limbah ternyata memiliki nilai guna apabila diolah dengan pengetahuan, keterampilan, dan kreativitas.
Batok Kelapa, Potensi Energi Alternatif
Batok kelapa merupakan salah satu limbah organik yang berpotensi dimanfaatkan menjadi bahan bakar alternatif. Melalui proses pengolahan menjadi arang dan pembentukan briket, bahan tersebut dapat digunakan sebagai sumber energi untuk berbagai kebutuhan, termasuk memasak.
Pemanfaatan briket batok kelapa memberikan alternatif penggunaan bahan bakar selain arang kayu. Berdasarkan pengamatan dalam kegiatan uji coba siswa, briket yang dihasilkan memiliki bara yang relatif awet dan panas yang cukup untuk memasak. Selain itu, asap yang tampak selama pengujian relatif lebih sedikit dibandingkan dengan arang kayu pembanding.
Karakteristik tersebut menjadikan briket batok kelapa menarik untuk dipelajari lebih lanjut sebagai bahan bakar alternatif. Meski demikian, tingkat panas, lama pembakaran, dan jumlah asap dapat dipengaruhi oleh kualitas arang, bahan perekat, kepadatan briket, kadar air, serta kondisi pembakaran.
Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya menghasilkan produk yang dapat dimanfaatkan, tetapi juga membuka kesempatan bagi siswa untuk melakukan pengamatan ilmiah dan membandingkan kinerja beberapa jenis bahan bakar secara lebih terukur.
Dua Hari Penjemuran, Briket Siap Dimanfaatkan
Salah satu tahapan penting dalam kegiatan ini adalah proses pengeringan. Setelah selesai dibuat, briket dijemur selama dua hari sebelum digunakan untuk memasak.
Pengeringan membantu mengurangi kadar air pada briket sehingga proses pembakaran dapat berlangsung lebih baik. Hasil uji coba menunjukkan bahwa seluruh briket yang dibuat dapat digunakan dengan baik setelah melalui proses penjemuran tersebut.
Pengalaman ini mengajarkan kepada siswa bahwa kualitas suatu produk tidak hanya ditentukan oleh bahan baku dan cara pembuatannya, tetapi juga oleh ketelitian dalam menjalankan setiap tahapan proses. Kesabaran, ketekunan, dan kemampuan mengevaluasi hasil merupakan bagian penting dari pembelajaran berbasis proyek.
Mendukung Gerakan Sekolah Adiwiyata
Kegiatan pembuatan dan pemanfaatan briket batok kelapa sejalan dengan semangat Sekolah Adiwiyata, yaitu membangun kepedulian dan budaya ramah lingkungan melalui tindakan nyata di lingkungan pendidikan.
Melalui kegiatan ini, siswa diajak memahami pentingnya memanfaatkan kembali bahan yang masih memiliki nilai guna, mengurangi limbah, mengenal sumber energi alternatif, serta mengembangkan solusi sederhana terhadap persoalan lingkungan.
Nilai-nilai tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari memilah sampah, memanfaatkan limbah organik, menjaga kebersihan lingkungan, hingga mengembangkan berbagai inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat.
Lebih dari sekadar menghasilkan briket, kegiatan ini menanamkan pemahaman bahwa menjaga lingkungan membutuhkan pengetahuan, keterampilan, kreativitas, dan tanggung jawab bersama.
Membentuk Generasi Kreatif, Mandiri, dan Peduli Lingkungan
Melalui kegiatan kokurikuler berbasis PjBL ini, SMP Negeri 15 Purworejo memberikan ruang bagi peserta didik untuk mengembangkan keterampilan praktis sekaligus membangun karakter positif. Siswa belajar bekerja sama, berpikir kritis, berinovasi, dan menghargai proses dalam menghasilkan sebuah karya.
Pemanfaatan briket batok kelapa menjadi bukti bahwa pembelajaran yang dekat dengan kehidupan sehari-hari dapat memberikan pengalaman yang konkret dan bermanfaat. Dari bahan sederhana yang mudah dijumpai di lingkungan sekitar, siswa dapat menghasilkan produk yang memiliki fungsi nyata.
Ke depan, kegiatan serupa dapat dikembangkan melalui pengujian yang lebih terukur, misalnya membandingkan lama pembakaran, suhu panas, jumlah bahan bakar yang digunakan, serta banyaknya asap yang dihasilkan. Dengan demikian, siswa tidak hanya mampu membuat produk, tetapi juga dapat membuktikan keunggulan dan keterbatasannya berdasarkan data.
Melalui semangat inovasi dan kepedulian terhadap lingkungan, SMP Negeri 15 Purworejo terus mendorong terciptanya pembelajaran yang kreatif, kontekstual, dan bermakna. Diharapkan, pengalaman ini menjadi langkah awal bagi para siswa untuk terus berkarya, memanfaatkan potensi lokal, dan berkontribusi dalam mewujudkan lingkungan yang lebih bersih serta masa depan yang berkelanjutan.
Dari batok kelapa menjadi sumber energi, dari pembelajaran menjadi inovasi, dan dari sekolah tumbuh generasi peduli lingkungan

